21 Desember 2015

JIHADNYA SEORANG ISTRI

Rasulullah SAW bersabda, ”Setiap jerih payah
istri di rumah sama nilainya dengan jerih
payah suami di medan jihad.” (HR Bukhari
dan Muslim). Pada dasarnya, Islam telah
memberikan keistimewaan kepada para istri
untuk tetap berada di rumahnya. Untuk
mendapatkan surga-Nya kelak, para istri
cukup berjuang di rumah tangganya dengan
ikhlas. Tetesan keringat mereka di dapur
dinilai sama dengan darah mujahid di medan
perang.
Menjadi ibu rumah tangga kedengarannya
memang sepele dan remeh, hanya
berkecimpung dengan urusan rumah dari A-
Z, namun siapa sangka banyak sekali
kebaikan dan hikmah yang dapat diperoleh.
Ibulah yang mengambil porsi terbesar dalam
pembentukan pribadi sebuah generasi.
Pertumbuhan suatu generasi bangsa pertama
kali berada di buaian para ibu. Di tangan ibu
pula pendidikan anak ditanamkan dari usia
dini, dan berkat keuletan dan ketulusan ibu
jualah bermunculan generasi-generasi
berkualitas dan bermanfaat bagi bangsa dan
agama.
Dalam Islam, ini adalah tugas besar, namun
sangat mulia dan akan
dipertanggungjawabkan di akhirat.
Sebagaimana sabda Rasulullah SAW,
”Seorang istri pemimpin di rumah suaminya
dan dia bertanggung jawab atas
kepemimpinannya.” (HR Bukhari dan Muslim)
.
Sayangnya, kebanyakan wanita modern saat
ini tidak menyukai aktivitas rumah tangga.
Mereka lebih bangga bekerja di luar rumah
karena beranggapan tinggal di rumah identik
dengan ketidakmandirian dan
ketidakberdayaan ekonomi. Maka, jadilah
peran ibu di rumah dianggap rendah, dan
tidak sedikit ibu rumah tangga yang malu-
malu ketika ditanya apa pekerjaannya.
Meskipun seorang wanita tidak bekerja
setelah lulus sarjana, ilmunya tidak akan sia-
sia, sebab ia akan menjadi ibu sekaligus
pendidik bagi anak-anaknya. Kebiasaan
berpikir ilmiah yang ia dapatkan dari proses
belajar di bangku kuliah itulah yang akan
membedakannya dalam mendidik anak.
Seorang ibu memang harus cerdas dan
berkualitas, sebab kewajiban mengurus anak
tidak sebatas memberi makan.
Ia harus mampu merawat dan mendidik
anak-anaknya dengan benar, penuh kasih
sayang, kesabaran, menempanya dengan
nilai dan norma agama agar sang anak
mampu menghindar dari pengaruh
lingkungan dan kemajuan teknologi yang
merusak akal dan akhlaknya. Hal itu hanya
dapat dilakukan oleh seorang ibu yang
cerdas.
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
 

About

Delivered by FeedBurner