
Awal Mula Perang Salib
Perang Salib mendapatkan namanya dari logo salib yang dikenakan oleh para pasukan gereja. Terdapat sedikit perbedaan sumber nama dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris yaitu crusade. Dalam etimologi bahasa Inggris, crusade diambil dari bahasa Prancis croisade dan bahasa Spanyol cruzada yang keduanya berasal dari bahasa Latin cruciata atau cruzata yang berarti disalib. Meskipun para pasukan gereja dalam Perang Salib disebut dengan nama Crusader setelah perang, mereka tidak pernah dipanggil dengan nama tersebut ketika perang sedang berlangsung. Mereka lebih dikenal dengan nama fideles Sancti Petri yang berarti pengikut Santo Peter, atau milites Christi yang artinya ksatria Kristus.
Perang Salib dimulai ketika Reformasi dan Kontra-Reformasi yang terjadi pada abad ke-16, dan para sejarawan menelisik Perang Salib lewat kacamata agama mereka sendiri. Pemeluk Protestan melihat Perang Salib sebagai sebuah manifestasi kejahatan dari kepausan, sementara pihak Katolik melihat gerakan ini sebagai sebuah gerakan yang dilakukan demi kebaikan bersama. Pada abad Pencerahan, seluruh sejarawan tampak sepakat dan menilai bahwa seluruh Perang Salib dan Abad Pertengahan merupakan sebuah kelakuan barbar yang didorong oleh fanatisme. Peneliti-peneliti dari abad Pencerahan dan sejarawan modern di Barat sudah mulai memertanyakan masalah moral yang dilakukan oleh para Crusader ini, dan pada tahun 1950 Steven Runciman menulis bahwa Perang Salib tidak lain hanyalan sebuah kegiatan tanpa toleransi yang mengatasnamakan Tuhan.
Api yang menyulut tertulisnya sejarah Perang Salib mulai menyala pada tahun 636 ketika pasukan Muslim berhasil menundukkan tentara Bizantium dalam Perang Yarmouk dan kekuasaan akan palestina diserahkan kepada dinasti Umayyad, dinasti Abbasid, dan Fatimid. Ketika masa itu terjadi pula lah tingkat toleransi, perdagangan, dan hubungan politik antara negara Arab dan negara-negara Kristen Eropa mengalami pasang surut dan terus berlanjut hingga tahun 1072 ketika Fatimid kehilangan kontrol akan Palestina kepada Kekaisaran Agung Seljuk. Salah satu contoh kejadian ini adalah ketika khalifah Fatimid yang bernama al-Hakin bin Amrullah memerintahkan penghancuran Gereja Sepulchre dan tidak mampu berbuat apa-apa ketika penerusnya mengizinkan kekaisaran Bizantium membangunnya kembali.
Masa-Masa Perang Salib
Perang Salib yang pertama terjadi adalah Reconquista yang berarti pengambilan kembali. Perang ini sebenarnya dimulai pada abad ke-8 dan mulai memasuki titik balik dengan pendudukan kembali Toledo pada tahun 1805 dan baru mendapatkan “status” sebagai Perang Salib ketika Paus Calixtus II menyatakannya di tahun 1123. Perang Salib yang kedua adalah Perang Salib Rakyat yang terjadi tahun 1096 yang dimulai karena Paus Urban terinspirasi oleh ceramah Peter sang Pertama dan akhirnya memimpin 20.000 orang biasa menuju Tanah Suci tepat setelah Paskah tahun itu.
Sejarah perang salib berlanjut dengan Perang Salib Pertama yang terjadi dari tahun 1095 hingga 1099. Para crusader yang ikut dalam perang ini berangkat dari Prancis dan Italia pada waktu berbeda yaitu Agustus dan September dengan Hugh Vermandois berangkat pertama membawa 4 bagian dari tentara yang pergi menuju Konstantinopel secara terpisah. Pemimpin-pemimpin Perang Salib pertama ini antara lain adalah: Godfrey dari Bouillon, Robert Curthose, Hugh Vermandois, Baldwin dari Bouillon, Tancred de Hauteville, dan banyak lagi. Para crusader berusaha menyerang Turki melawan pasukan gabungan Yahudi dan Muslim yang akhirnya mereka basmi tanpa ampun. Para crusader kemudian membentuk 4 crusader states yaitu Edessa, Antioch, Tripoli, dan Jerusalem. Ketika mereka sudah merasa menang, Imad ad-Din Zengi yang saat itu merupakan gubernur Mosul berhasil menduduki Aleppo pada 1128 dan Edessa pada 1144. Kehilangan crusader state ini memaksa Paus Eugenius III untuk mengadakan Perang Salib lanjutan.
Perang Salib kedua terjadi pada tahun 1147 hingga 1149 dan sudah diperkiran oleh beberapa penceramah yang salah satunya adalah Bernard dari Clairvaux. Perang ini dimulai tanpa kemenangan signifikan setelah pasukan milik Louis VII dan Conrad III bergerak ke Jerusalem pada tahun 1147 dan melancarkan sebuah serangan dadakan yang gagal di Damaskus. Meski begitu, perang ini mendapat berita bagus dengan kemenangan pasukan Eropa Utara yang berhasil mengambil kembali Lisbon. Sebelum akhirnya berhenti sepenuhnya, terjadi lagi beberapa Perang Salib yaitu: Perang Salib Swedia Pertama, Kedua, Ketiga, Perang Salib Ketiga, Perang Salib 1197, Perang Salib Keempat, Perang Salib Albigensia, Perang Salib Anak-anak, Perang Salib Kelima, Perang Salib Keenam, Perang Salib Salib Ketujuh, Perang Salib Kedelapan, Perang Salib Kesembilang, Perang Salib Aragon, Perang Salib Smyrniote, Aleksandria, dan Savoyard, dan beberapa Perang Salib kecil lainnya yang membentuk sebuah daftar panjang tentang sejarah Perang Salib
Salahudin Al Ayubi atau sering juga di sebut sebagai “Saladin” di dunia barat, merupakan panglima perang Muslim yang dikagumi kepiawaian berperang serta keshalihannya baik kepada kawan dan lawan-lawannya. Keberanian dan kepahlawanannya tercatat sejarah di kancah perang salib.Juli 1192 sepasukan muslim dalam perang salib menyerang tenda-tenda pasukan salib diluar benteng kota Jaffa, termasuk didalamnya ada tenda Raja Inggris, Richard I. Raja Richard pun menyongsong serangan pasukan muslim dengan berjalan kaki bersama para prajuritnya. Perbandingan pasukan muslim dengan Kristen adalah 4:1. Salahudin Al Ayubi yang melihat Richard dalam kondisi seperti itu berkata kepada saudaranya : ” Bagaimana mungkin seorang raja berjalan kaki bersama prajuritnya? Pergilah ambil kuda arab ini dan berikan kepadanya, seorang laki-laki sehebat dia tidak seharusnya berada di tempat ini dengan berjalan kaki “. Fragmen diatas dicatat sebagai salah satu karakter yang pemurah dari Salahudin, bahkan kepada musuhnya sekalipun. Walalupun sedang diatas angin tetap berlaku adil dan menghormati lawan-lawannya.
Sejarah Hidup Salahudin
Salahudin lahir disebuah kastil di Takreet tepi sungai Tigris (daerah Irak) tahun 1137 Masehi atau 532 Hijriyah. Bernama asli Salah al-Din Yusuf bin Ayub. Ayahnya Najm ad-Din masih keturunan suku Kurdi dan menjadi pengelola kastil itu. Setelah kelahiran Salahudin keluarga Najm-ad-Din bertolak ke Mosul, akibat ada konflik didalam kastil. Di Mosul , keluarga Najm bertemu dan membantu Zangi, seorang penguasa arab yang mencoba menyatukan daerah-daerah muslim yang terpecah menjadi beberapa kerajaan seperti Suriah, Antiokhia, Aleppo, Tripoli, Horns, Yarussalem, Damaskus.
Zangi berhasil menguasai Suriah selanjutnya Zangi bersiap untuk menghadapi serbuan tentara Salib dari Eropa yang telah mulai memasuki Palestina. Zangi bersama saudaranya; Nuruddin menjadi mentor bagi Salahudin kecil yang mulai tumbuh berkembang dalam lingkungan keluarga ksatria. Dari kecil sudah mulai terlihat karakter kuat Salahudin yang rendah hati, santu serta penuh belas kasih. Zangi meninggal digantikan Nuruddin. Paman Salahudin, Shirkuh kemudian ditunjuk untuk menaklukan Mesir yang saat itu sedang dikuasai dinasti Fatimiyah. Setelah penyerangan kelima kali, tahun 1189 Mesir dapat dikuasai. Shirkuh kemudian meninggal. Selanjutnya Salahudin diangkat oleh Nuruddin menjadi pengganti Shirkuh.
Salahudin yang masih muda dan dinggap “hijau” ternyata mampu melakukan mobilisasi dan reorganisasi pasukan dan perekonomian di Mesir, terutama untuk menghadapi kemungkinan serbuan balatentara Salib. Berkali-kali serangan pasukan Salib ke Mesir dapat Salahudin patahkan. Akan tetapi keberhasilan Salahudin dalam memimpin mesir mengakibatkan Nuruddin merasa khawatir tersaingi. Akibatnya hubungan mereka memburuk. Tahun 1175 Nuruddin mengirimkan pasukan untuk menaklukan Mesir. Tetapi Nuruddin meninggal saat armadanya sedang dalam perjalanan. Akhirnya penyerangan dibatalkan. Tampuk kekuasaan diserahkan kepada putranya yang masih sangat muda. Salahudin berangkat ke Damaskus untuk mengucapkan bela sungkawa. Kedatangannya banyak disambut dan dielu-elukan. Salahudin yang santun berniat untuk menyerahkan kekuasaan kepada raja yang baru dan masih belia ini. Pada tahun itu juga raja muda ini sakit dan meninggal. Posisinya digantikan oleh Salahudin yang diangkat menjadi pemimpin kekhalifahan Suriah dan Mesir.
Salahudin dan Perang Salib
Saat Salahudin berkuasa, perang salib sedang berjalan dalam fase kedua dengan dikuasainya Yerussalem oleh pasukan Salib. Namun pasukan Salib tidak mampu menaklukan Damaskus dan Kairo. Saat itu terjadi gencatan senjata antara Salahudin dengan Raja Yerussalem dari pasukan Salib, Guy de Lusignan.
Perang salib yang disebut-sebut sebagai fase ketiga dipicu oleh penyerangan pasukan Salib terhadap rombongan peziarah muslim dari Damaskus. Penyerangan ini dipimpin oleh Reginald de Chattilon penguasa kastil di Kerak yang merupakan bagian dari Kerajaan Yerussalem. Seluruh rombongan kafilah ini dibantai termasuk saudara perempuan Salahudin. Insiden ini menghancurkan kesepakatan gencatan senjata antara Damaskus dan Yerussalem. Maret 1187 setelah bulan suci Ramadhan, Salahudin menyerukan Jihad Qittal. Pasukan muslimin bergerak menaklukan benteng-benteng pasukan Salib. Puncak kegemilangan Salahudin terjadi di Perang Hattin.
Perang Hattin terjadi di bulan Juli yang kering. Pasukan muslim dengan jumlah 25000 orang mengepung tentara salib didaerah Hattin yang menyerupai tanduk. Pasukan muslim terdiri atas 12000 orang pasukan berkuda (kavaleri) sisanya adalah pasukan jalan kaki (infanteri). Kavaleri pasukan muslim menunggangi kuda yaman yang gesit dengan pakaian dari katun ringan (kazaghand) untuk meminimalisir panas terik di padang pasir. Mereka terorganisir dengan baik, berkomunikasi dengan bahasa arab. Pasukan dibagi menjadi beberapa skuadron kecil dengan menggunakan taktik hit and run
Pasukan salib terdiri atas tiga bagian. Bagian depan pasukan adalah pasukan Hospitaler, bagian tengah adalah batalyon kerajaan yang dipimpin Guy de Lusignan yang juga membawa Salib besar sebagai lambang kerajaan. Bagian belakang adalah pasukan ordo Knight Templar yang dipimpin Balian dari Ibelin. Bahasa yang mereka gunakan bercampur antara bahasa Inggris, Perancis dan beberapa bahasa eropa lainnya. Seperti umumnya tentara Eropa mereka menggunakan baju zirah dari besi yang berat, yang sebetulnya tidak cocok digunakan di perang padang pasir.Salahudin memanfaatkan celah-celah ini. Malam harinya pasukan muslimin membakar rumput kering disekeliling pasukan Salib yang sudah sangat kepanasan dan kehausan. Besok paginya Salahudin membagikan anak panah tambahan pada pasukan kavalerinya untuk membabat habis kuda tunggangan musuh. Tanpa kuda dan payah kepanasan, pasukan salib menjadi jauh berkurang kekuatannya. Saat peperangan berlangsung dengan kondisi suhu yang panas hampir semua pasukan salib tewas. Raja Yerussalem Guy de Lusignan berhasil ditawan sedangkan Reginald de Chattilon yang pernah membantai khalifah kaum muslimin langsung dipancung. Kepada Raja Guy, Salahudin memperlakukan dengan baik dan dibebaskan dengan tebusan beberapa tahun kemudian.
Menuju Yerussalem
Dari Hattin, Salahudin bergerak menuju kota-kota Acre, Beirut dan Sidon untuk dibebaskan. Selanjutnya Salahudin bergerak menuju Yerussalem. Dalam pembebasan kota-kota ataupun benteng Salahudin selalu mengutamakan jalur diplomasi dan penyerahan daripada langsung melakukan penyerbuan militer. Pasukan Salahudin mengepung Kota Yerussalem , pasukan salib di Yerussalem dipimpin oleh Balian dari Obelin. Empat hari kemudian Salahudin menerima penawaran menyerah dari Balian. Yerussalem diserahkan ketangan kaum muslimin. Salahuddin menjamin kebebasan dan keamanan kaum Kristen dan Yahudi. Fragmen ini di abadikan dalam film “Kingdom Of Heaven” besutan sutradara Ridley Scott. Tanggal 27 Rajab 583 Hijriyah atau bertepatan dengan Isra Mi’raj Rasulullah SAW, Salahudin memasuki kota Yerussalem.
Ada suatu percakapan dalam film Kingdom Of Heaven yang menarik bagi penulis, yang kurang lebih seperti ini :Balian : ”Saya serahkan kunci kota Yerussalem kepada anda, tapi anda harus dapat bisa menjamin keselamatan kami, orang-orang non-muslim”
Salahudin: ”Saya akan jamin keselamatan anda”
Balian : ” Apa yang dapat menjamin kami bahwa anda akan menepati janji anda ?” (Balian masih ingat saat-saat Yerussalem jatuh ke tangan pasukan Salib, banyak penduduk sipil muslim yang dibantai sampai kota Yerussalem sesak oleh mayat, dan Balian khawatir Salahudin melakukan hal yang sama )
Salahudin : ” (diam sejenak..menatap tajam Balian) Saya akan menepati janji, Insya Allah ..saya adalah Salahudin saya bukan seperti orang-orang anda”.
…………………………………………………………
Di Yerussalem, Salahudin kembali menampilkan kebijakan dan sikap yang adil sebagai pemimpin yang shalih. Mesjid Al-Aqsa dan Mesjid Umar bin Khattab dibersihkan tetapi untuk Gereja Makam Suci tetap dibuka serta umat Kristiani diberikan kebebasan untuk beribadah didalamnya. Salahudin berkata :” Muslim yang baik harus memuliakan tempat ibadah agama lain”. Sangat kontras dengan yang dilakukan para pasukan Salib di awal penaklukan kota Yerussalem (awal perang salib), sejarah mencatat kota Yerussalem digenangi darah dan mayat dari penduduk muslimin yang dibantai. Sikap Salahudin yang pemaaf dan murah hati disertai ketegasan adalah contoh kebaikan bagi seluruh alam yang diperintahkan ajaran Islam.
Salahudin Al-Ayubi tidak tinggal di istana megah. Ia justru tinggal di mesjid kecil bernama Al-Khanagah di Dolorossa. Ruangan yang dimilikinya luasnya hanya bisa menampung kurang dari 6 orang.Walaupun sebagai raja besar dan pemenang perang, Salahudin sangat menjunjung tinggi kesederhanaan dan menjauhi kemewahan serta korupsi.
Salahudin berhasil mempertahankan Yerussalem dari serangan musuh besarnya Richard The Lion Heart, Raja Inggris. Richard menyerang dan mengepung Yerussalem Desember 1191 dan Juli 1192. Namun penyerangan-penyerangannya dapat digagalkan oleh Salahudin. Kepada musuhnya pun Salahudin berlaku penuh murah hati. Saat Richard sakit dan terluka, Salahudin menghentikan pertempuran serta mengirimkan hadiah serta tim pengobatan kepada Richard. Richard pun kembali ke Inggris tanpa berhasil mengalahkan Salahudin.
Sepanjang sejarah Yerussalem sebagai kota suci bagi tiga agama, sejak ditaklukan Salahudin, Yerussalem belum pernah jatuh ketangan pihak lain. Baru setelah Perang Dunia I, Yerussalem jatuh ketangan Inggris yang kemudian diserahkan ke tangan Israel.
Semasa hidupnya Salahudin lebih banyak tinggal di barak militer bersama para prajuritnya dibandingkan hidup dalam lingkungan istana. Salahudin wafat 4 Maret 1193 di Damaskus. Para pengurus jenazah sempat terkaget-kaget karena ternyata Salahudin tidak memiliki harta. Ia hanya memiliki selembar kain kafan yang selalu di bawanya dalam setiap perjalanan dan uang senilai 66 dirham nasirian (mata uang Suriah waktu itu).
Sampai sekarang Salahudin Al-Ayubi tetap dikenang sebagai pahlawan besar yang penuh sikap murah hati.
Data lengkap tentang King Salahudin Al-Ayubi
Memerintah 1174 M. – 4 Maret-1193 M.
Dinobatkan 1174 M.
Nama lengkap Yusuf Ayyubi
Lahir 1138 M. di Tikrit, Iraq
Meninggal 4 Maret-1193 M. di Damaskus, Syria
Dimakamkan Masjid Umayyah, Damaskus, Syria
Pendahulu Nuruddin Zengi
Pengganti Al-Aziz
Dinasti Ayyubid
