riwayat dari Khalifah Umar bin al-Khatthab yang berwasiat agar disediakan makanan bagi mereka yang berta’ziyah. Al-Imam Ahmad bin Mani’ meriwayatkan:
عَنِ الْأَحْنَفِ بْنِ قَيْسٍ قَالَ كُنْتُ أَسْمَعُ عُمَرَ رضي الله عنه يَقُوْلُ لاَ يَدْخُلُ أَحَدٌ مِنْ قُرَيْشٍ فِيْ بَابٍ إِلَّا دَخَلَ مَعَهُ نَاسٌ فَلاَ أَدْرِيْ مَا تَأْوِيْلُ قَوْلِهِ حَتَّى طُعِنَ عُمَرُ رضي الله عنه فَأَمَرَ صُهَيْبًا رضي الله عنه أَنْ يُصَلِّيَ بِالنَّاسِ ثَلاَثًا وَأَمَرَ أَنْ يُجْعَلَ لِلنَّاسِ طَعَاماً فَلَمَّا رَجَعُوْا مِنَ الْجَنَازَةِ جَاؤُوْا وَقَدْ وُضِعَتِ الْمَوَائِدُ فَأَمْسَكَ النَّاسُ عَنْهَا لِلْحُزْنِ الَّذِيْ هُمْ فِيْهِ. فَجَاءَ الْعَبَّاسُ بْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ قَالَ : يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ مَاتَ رَسُول اللَّه صلى الله عليه وسلم فَأَكَلْنَا بَعْدَهُ وَشَرِبْنَا، وَمَاتَ أَبُو بَكْرٍ فَأَكَلْنَا بَعْدَهُ وَشَرِبْنَا، أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِنْ هَذَا الطَّعَامِ، فَمَدَّ يَدَهُ وَمَدَّ النَّاس أَيْدِيَهُم فَأَكَلُوا، فَعَرَفْتُ تَأَويل قَوله.
“Dari Ahnaf bin Qais, berkata: “Aku mendengar Umar berkata: “Seseorang dari kaum Quraisy tidak memasuki satu pintu, kecuali orang-orang akan masuk bersamanya.” Aku tidak mengerti maksud perkataan beliau, sampai akhirnya Umar ditusuk, lalu memerintahkan Shuhaib menjadi imam sholat selama tiga hari dan memerintahkan menyediakan makanan bagi manusia. Setelah mereka pulang dari jenazah Umar, mereka datang, sedangkan hidangan makanan telah disiapkan. Lalu mereka tidak jadi makan, karena duka cita yang menyelimuti. Lalu Abbas bin Abdul Mutthalib datang dan berkata: “Wahai manusia, dulu Rasulullah SAW meninggal, lalu kita makan dan minum sesudah itu. Lalu Abu Bakar meninggal, kita makan dan minum sesudahnya. Wahai manusia, makanlah dari makanan ini.” Lalu Abbas menjamah makanan itu, dan orang-orang pun menjamahnya untuk dimakan. Aku baru mengerti maksud pernyataan Umar tersebut.”
Hadits tersebut diriwayatkan oleh Ibnu Mani’ dalam al-Musnad, dan dikutip oleh al-Hafizh Ibnu Hajar, dalam al-Mathalib al-‘Aliyah, juz 5 hal. 328 dan al-Hafizh al-Bushiri, dalam Ithaf al-Khiyarah al-Maharah, juz 3 hal. 289.
HAL INI IN BELIAU LAKUKAN BERSANDAR PADA HADIS NABI BERIKUT :
SETIAP TAHLIL ADALAH SEDEKAH, "Sesungguhnya
tiap-tiap tasbih adalah shodaqoh,
tiap-tiap tahmid adalah shodaqoh,
tiap-tiap tahlil adalah shodaqoh,
menyuruh kepada kebaikan adalah
shodaqoh, mencegah kemungkaran
adalah shodaqoh dan persetubuhan
salah seorang di antara kamu
(dengan istrinya) adalah shodaqoh
“. Mereka bertanya, “ Wahai
Rasulullah, apakah (jika) salah
seorang di antarakalian memenuhi
syahwatnya, ia mendapat pahala?”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam menjawab, “Tahukah engkau
jika seseorang memenuhi
syahwatnya pada yang haram, dia
berdosa. Demikian pula jika ia
memenuhi syahwatnya itu pada
yang halal, ia mendapat pahala”.
(HR. Muslim no. 2376)
Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,” Kalimat itu (laa ilaha illallah, pen) merupakan kebaikan yang paling utama. Kalimat itu dapat menghapuskan berbagai dosa dan kesalahan. ” (Dinilai hasan oleh Syaikh Al Albani dalam tahqiq beliau terhadap Kalimatul Ikhlas, 55)
JUGA riwayat dari Sayyidah Aisyah, istri Nabi SAW ketika ada keluarganya meninggal dunia, beliau menghidangkan makanan. Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya:
عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم أَنَّهَا كَانَتْ إِذَا مَاتَ الْمَيِّتُ مِنْ أَهْلِهَا فَاجْتَمَعَ لِذَلِكَ النِّسَاءُ ثُمَّ تَفَرَّقْنَ إِلاَّ أَهْلَهَا وَخَاصَّتَهَا أَمَرَتْ بِبُرْمَةٍ مِنْ تَلْبِيْنَةٍ فَطُبِخَتْ ثُمَّ صُنِعَ ثَرِيْدٌ فَصُبَّتْ التَّلْبِيْنَةُ عَلَيْهَا ثُمَّ قَالَتْ كُلْنَ مِنْهَا فَإِنِّيْ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ اَلتَّلْبِيْنَةُ مُجِمَّةٌ لِفُؤَادِ الْمَرِيْضِ تُذْهِبُ بَعْضَ الْحُزْنِ. رواه مسلم.
“Dari Urwah, dari Aisyah, istri Nabi SAW, bahwa apabila seseorang dari keluarga Aisyah meninggal, lalu orang-orang perempuan berkumpul untuk berta’ziyah, kemudian mereka berpisah kecuali keluarga dan orang-orang dekatnya, maka Aisyah menyuruh dibuatkan talbinah (sop atau kuah dari tepung dicampur madu) seperiuk kecil, lalu dimasak. Kemudian dibuatkan bubur. Lalu sop tersebut dituangkan ke bubur itu. Kemudian Aisyah berkata: “Makanlah kalian, karena aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Talbinah dapat menenangkan hati orang yang sakit dan menghilangkan sebagian kesusahan.” (HR. Muslim [2216]).
ROSULULLAH MEMAKAN HIDANGAN SEDEKAH KELUARGA SI MAYIT
“Kami keluar bersama
Rasulullah SAW. pada sebuah
jenazah, maka aku melihat
Rasulullah SAW berada diatas kubur
berpesan kepada penggali kubur :
“perluaskanlah olehmu dari bagian
kakinya, dan juga luaskanlah pada
bagian kepalanya”, Maka tatkala
telah kembali dari kubur, seorang
wanita(keluarga si mayit) mengundang Rasulullah
maka Rasulullah datang
seraya didatangkan (disuguhkan)
makanan yang diletakkan dihadapan
Rasulullah, kemudian diletakkan
juga pada sebuah perkumpulan
(sahabat), kemudian dimakanlah
oleh mereka. Maka ayah-ayah kami
melihat Rasulullah SAW makan
dengan suapan.(Abi Daud no.3332)
IMAM BESAR WAHABI HALALKAN KENDURI MAYIT
عَشَاءُ الْوَالِدِينَ
س : الأخ أ. م. ع. مِنَ الرِّياضِ يَقُولُ فِي سُؤَالِهِ : نَسْمَعُ كَثِيرًا عَنْ عَشَاءِ الْوَالِدِينَ أَوْ أحَدِهِمَا ، وَلَهُ طُرُقٌ مُتَعَدِّدَةٌ ، فَبَعْضُ النَّاسِ يَعْمَلُ عِشَاءَ خَاصَّةٍ فِي رَمَضانِ وَيَدْعُو لَهُ بَعْضَ الْعُمَّالِ وَالْفقراءِ ، وَبَعْضُهُمْ يُخْرَجُهُ للذين يُفْطِرُونَ فِي الْمَسْجِدِ ، وَبَعْضُهُمْ يَذْبَحَ ذَبيحَةَ وَيُوَزِّعُهَا عَلَى بَعْضِ الْفقراءِ وَعَلَى بَعْضِ جِيرَانِهِ ، فَإِذَا كَانَ هَذَا الْعَشَاءُ جَائِزًا فَمَا هِي الصِّفَةُ الْمُنَاسِبَةُ لَهُ؟ ( ج ) : الصَّدَقَةُ لِلْوَالِدِينَ أَوْ غِيَرِهُمَا مِنَ الْأقاربِ مَشْرُوعَةٌ ؛ لِقولِ « النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيه وَسَلَّمَ : لَمَّا سَأَلَهُ سَائِلٌ قَائِلًا : هَلْ بَقِيَ مِنْ بَرٍّ أَبَوَيْ شَيْءٌ أَبَرَّهُمَا بِهِ بَعْدَ مَوْتِهِمَا ؟ قَالَ نَعَمْ الصَّلاَةُ عَلَيهُمَا وَالْاِسْتِغْفارُ لَهُمَا وإنفاذُ عَهْدِهِمَا مِنْ بَعْدِهِمَا وَإكْرَامُ صَدِيقِهِمَا وَصِلَةُ الرَّحِمِ الَّتِي لَا تُوَصِّلْ إلّا بِهِمَا » وَلِقَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيه وَسَلَّمُ :« إِنَّ مَنْ أَبَرَّ الْبَرَّ أَنْ يَصِلَ الرَّجُلُ أهْلَ وَدِّ أَبِيه »« وَقَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيه وَسَلَّمَ لَمَّا سَأَلَهُ سائِلٌ قَائِلًا : إِنَّ أُمَّي مَاتَتْ وَلَمْ تُوصِ أَفَلَهَا أَجْرٌ إِنْ تَصَدَّقْتُ عَنْهَا ؟ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيه وَسَلَّمَ نَعَمْ » وَلِعُمُومِ قَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيه وَسَلَّمُ :« إِذَا مَاتَ اِبْنُ آدَمَ اِنْقَطَعَ عَمَلُهُ إلّا مِنْ ثَلاثٍ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمُ يَنْتَفِعُ بِهِ أَوْ وَلَدٌ صَالِحٌ يَدْعُو لَهُ ». وَهَذِهِ الصَّدَقَةُ لَا مُشَاحَّةَ فِي تَسْمِيَتِهَا بِعَشَاءِ الْوَالِدِينَ أَوْ صَدَقَةِ الْوَالِدَيْنِ سَواءٌ كَانَتْ فِي رَمَضانَ أَوْ غَيْرَهُمَا
“HUKUM KENDURI UNTUK MAYIT KEDUA ORANG TUA” Soal: Sda AMA, Riyadh. Kami banyak mendengar tentang kenduri untuk kedua orang tua atau salah satunya.Dan banyak caranya.Sebagian masyarakat mengadakan kenduri khusus pada bulan Ramadhan dengan mengudang sebagian pekerja dan fakir miskin.Sebagian lagi mengeluarkannya bagi mereka yang berbuka puasa di Masjid.Sebagian lagi menyembelih hewan dan membagikannya kepada sebagian fakir miskin dan tetangga.Apakah kenduri ini boleh? Lalu bagaimana cara yang wajar?Jawab: “Sedekah untuk kedua orang tua, atau kerabat lainnya memang dianjurkan syara’, karena sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, ketika seseorang bertanya: “Apakah aku masih bisa berbakti kepada kedua orang tua setelah mereka wafat?” “Iya, menshalati jenazahnya, memohonkan ampunan, menepati janjinya, memuliakan teman mereka, menyambung tali kerabatan yang hanya tersambung melalui mereka.” Dan karena sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Termasuk kebaktian yang paling baik adalah seseorang menyambung hubungan mereka yang dicintai ayahnya.” Dan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketiak seseorang bertanya: “Sesungguhnya ibuku telah meninggal dan tidak berwasiat. Apakah ia akan mendapatkan pahala jika aku bersedekah untuknya?” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Iya”. Dan karena keumuman sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Apabila seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara, sedekah yang mengalir, ilmu yang dimanfaatkan dan anak shaleh yang mendoakannya.” Sedekah semacam ini, tidak menjadi soal dinamakan kenduri kedua orang tua atau sedekah kedua orang tua, baik dilakukan pada bulan Ramadhan atau selainnya.
(Syaikh Ibnu Baz, Majmu Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, juz 13 hal. 253-254)
حُكْمُ حُضُورِ مَجْلِسِ الْعَزَاءِ وَالْجُلُوسِ فِيه (س): هَلْ يَجُوزُ حُضُورُ مَجْلِسِ الْعَزَاءِ وَالْجُلُوسِ مَعَهُمْ ؟ ج: إِذَا حَضَرَ الْمُسْلِمُ وَعَزَّى أهْلَ الْمَيِّتِ فَذَلِكَ مُسْتَحَبٌّ ؛ لمَا فِيه مِنَ الْجَبْرِ لَهُمْ وَالتَّعْزِيَةِ ، وَإِذَا شَرِبَ عِنْدَهُمْ فِنْجَانَ قَهْوَةٍ أَوْ شَاي أَوْ تُطَيِّبَ فَلَا بَأسً كَعَادَةِ النَّاسِ مَعَ زُوَّارِهُمْ .
Soal: Bolehkah menghadiri majlis ta’ziyah (tahlilan) dan duduk-duduk bersama mereka?Jawab: Apabila seorang Muslim menghadiri majliz ta’ziyah dan menghibur keluarga mayit maka hal itu disunnahkan, karena dapat menghibur dan memotivasi kesabaran kepada mereka. Apabila minum secangkir kopi, teh atau memakai minyak wangi (pemberian keluarga mayit), maka hukumnya tidak apa-apa, sebagaimana kebiasaan masyarakat terhadap para pengunjungnya.”
(Syaikh Ibnu Baz, Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, juz 13 hal. 371.)
عَنِ الْأَحْنَفِ بْنِ قَيْسٍ قَالَ كُنْتُ أَسْمَعُ عُمَرَ رضي الله عنه يَقُوْلُ لاَ يَدْخُلُ أَحَدٌ مِنْ قُرَيْشٍ فِيْ بَابٍ إِلَّا دَخَلَ مَعَهُ نَاسٌ فَلاَ أَدْرِيْ مَا تَأْوِيْلُ قَوْلِهِ حَتَّى طُعِنَ عُمَرُ رضي الله عنه فَأَمَرَ صُهَيْبًا رضي الله عنه أَنْ يُصَلِّيَ بِالنَّاسِ ثَلاَثًا وَأَمَرَ أَنْ يُجْعَلَ لِلنَّاسِ طَعَاماً فَلَمَّا رَجَعُوْا مِنَ الْجَنَازَةِ جَاؤُوْا وَقَدْ وُضِعَتِ الْمَوَائِدُ فَأَمْسَكَ النَّاسُ عَنْهَا لِلْحُزْنِ الَّذِيْ هُمْ فِيْهِ. فَجَاءَ الْعَبَّاسُ بْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ قَالَ : يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ مَاتَ رَسُول اللَّه صلى الله عليه وسلم فَأَكَلْنَا بَعْدَهُ وَشَرِبْنَا، وَمَاتَ أَبُو بَكْرٍ فَأَكَلْنَا بَعْدَهُ وَشَرِبْنَا، أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِنْ هَذَا الطَّعَامِ، فَمَدَّ يَدَهُ وَمَدَّ النَّاس أَيْدِيَهُم فَأَكَلُوا، فَعَرَفْتُ تَأَويل قَوله.
“Dari Ahnaf bin Qais, berkata: “Aku mendengar Umar berkata: “Seseorang dari kaum Quraisy tidak memasuki satu pintu, kecuali orang-orang akan masuk bersamanya.” Aku tidak mengerti maksud perkataan beliau, sampai akhirnya Umar ditusuk, lalu memerintahkan Shuhaib menjadi imam sholat selama tiga hari dan memerintahkan menyediakan makanan bagi manusia. Setelah mereka pulang dari jenazah Umar, mereka datang, sedangkan hidangan makanan telah disiapkan. Lalu mereka tidak jadi makan, karena duka cita yang menyelimuti. Lalu Abbas bin Abdul Mutthalib datang dan berkata: “Wahai manusia, dulu Rasulullah SAW meninggal, lalu kita makan dan minum sesudah itu. Lalu Abu Bakar meninggal, kita makan dan minum sesudahnya. Wahai manusia, makanlah dari makanan ini.” Lalu Abbas menjamah makanan itu, dan orang-orang pun menjamahnya untuk dimakan. Aku baru mengerti maksud pernyataan Umar tersebut.”
Hadits tersebut diriwayatkan oleh Ibnu Mani’ dalam al-Musnad, dan dikutip oleh al-Hafizh Ibnu Hajar, dalam al-Mathalib al-‘Aliyah, juz 5 hal. 328 dan al-Hafizh al-Bushiri, dalam Ithaf al-Khiyarah al-Maharah, juz 3 hal. 289.
HAL INI IN BELIAU LAKUKAN BERSANDAR PADA HADIS NABI BERIKUT :
SETIAP TAHLIL ADALAH SEDEKAH, "Sesungguhnya
tiap-tiap tasbih adalah shodaqoh,
tiap-tiap tahmid adalah shodaqoh,
tiap-tiap tahlil adalah shodaqoh,
menyuruh kepada kebaikan adalah
shodaqoh, mencegah kemungkaran
adalah shodaqoh dan persetubuhan
salah seorang di antara kamu
(dengan istrinya) adalah shodaqoh
“. Mereka bertanya, “ Wahai
Rasulullah, apakah (jika) salah
seorang di antarakalian memenuhi
syahwatnya, ia mendapat pahala?”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam menjawab, “Tahukah engkau
jika seseorang memenuhi
syahwatnya pada yang haram, dia
berdosa. Demikian pula jika ia
memenuhi syahwatnya itu pada
yang halal, ia mendapat pahala”.
(HR. Muslim no. 2376)
Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,” Kalimat itu (laa ilaha illallah, pen) merupakan kebaikan yang paling utama. Kalimat itu dapat menghapuskan berbagai dosa dan kesalahan. ” (Dinilai hasan oleh Syaikh Al Albani dalam tahqiq beliau terhadap Kalimatul Ikhlas, 55)
JUGA riwayat dari Sayyidah Aisyah, istri Nabi SAW ketika ada keluarganya meninggal dunia, beliau menghidangkan makanan. Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya:
عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم أَنَّهَا كَانَتْ إِذَا مَاتَ الْمَيِّتُ مِنْ أَهْلِهَا فَاجْتَمَعَ لِذَلِكَ النِّسَاءُ ثُمَّ تَفَرَّقْنَ إِلاَّ أَهْلَهَا وَخَاصَّتَهَا أَمَرَتْ بِبُرْمَةٍ مِنْ تَلْبِيْنَةٍ فَطُبِخَتْ ثُمَّ صُنِعَ ثَرِيْدٌ فَصُبَّتْ التَّلْبِيْنَةُ عَلَيْهَا ثُمَّ قَالَتْ كُلْنَ مِنْهَا فَإِنِّيْ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ اَلتَّلْبِيْنَةُ مُجِمَّةٌ لِفُؤَادِ الْمَرِيْضِ تُذْهِبُ بَعْضَ الْحُزْنِ. رواه مسلم.
“Dari Urwah, dari Aisyah, istri Nabi SAW, bahwa apabila seseorang dari keluarga Aisyah meninggal, lalu orang-orang perempuan berkumpul untuk berta’ziyah, kemudian mereka berpisah kecuali keluarga dan orang-orang dekatnya, maka Aisyah menyuruh dibuatkan talbinah (sop atau kuah dari tepung dicampur madu) seperiuk kecil, lalu dimasak. Kemudian dibuatkan bubur. Lalu sop tersebut dituangkan ke bubur itu. Kemudian Aisyah berkata: “Makanlah kalian, karena aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Talbinah dapat menenangkan hati orang yang sakit dan menghilangkan sebagian kesusahan.” (HR. Muslim [2216]).
ROSULULLAH MEMAKAN HIDANGAN SEDEKAH KELUARGA SI MAYIT
“Kami keluar bersama
Rasulullah SAW. pada sebuah
jenazah, maka aku melihat
Rasulullah SAW berada diatas kubur
berpesan kepada penggali kubur :
“perluaskanlah olehmu dari bagian
kakinya, dan juga luaskanlah pada
bagian kepalanya”, Maka tatkala
telah kembali dari kubur, seorang
wanita(keluarga si mayit) mengundang Rasulullah
maka Rasulullah datang
seraya didatangkan (disuguhkan)
makanan yang diletakkan dihadapan
Rasulullah, kemudian diletakkan
juga pada sebuah perkumpulan
(sahabat), kemudian dimakanlah
oleh mereka. Maka ayah-ayah kami
melihat Rasulullah SAW makan
dengan suapan.(Abi Daud no.3332)
HIDANGAN SEDEKAH SAMPAI TUJUH HARI
“Dari Sufyan berkata: “Thawus
berkata: “Sesungguhnya orang yang
mati akan diuji di dalam kubur
selama tujuh hari, karena itu
mereka (kaum salaf) menganjurkan
sedekah makanan selama hari-hari
tersebut.” Hadits di atas
diriwayatkan al-Imam Ahmad bin
Hanbal dalam al-Zuhd, al-Hafizh
Abu Nu’aim dalam Hilyah al-
Auliya’ (juz 4 hal. 11), al-Hafizh
Ibnu Rajab dalam Ahwal al-Qubur
(32), al-Hafizh Ibnu Hajar dalam al-
Mathalib al-’Aliyah (juz 5 hal. 330)
dan al-Hafizh al- Suyuthi dalam al-
Hawi lil-Fatawi (juz 2 hal. 178).
Menurut al-Hafizh al-Suyuthi, hadits
di atas diriwayatkan secara mursal
dari Imam Thawus dengan sanad
yang shahih.
Tradisi bersedekah kematian selama
tujuh hari berlangsung di Kota
Makkah dan Madinah sejak generasi
sahabat, hingga abad kesepuluh
Hijriah, sebagaimana dijelaskan oleh
al-Hafizh al-Suyuthi.
berkata: “Sesungguhnya orang yang
mati akan diuji di dalam kubur
selama tujuh hari, karena itu
mereka (kaum salaf) menganjurkan
sedekah makanan selama hari-hari
tersebut.” Hadits di atas
diriwayatkan al-Imam Ahmad bin
Hanbal dalam al-Zuhd, al-Hafizh
Abu Nu’aim dalam Hilyah al-
Auliya’ (juz 4 hal. 11), al-Hafizh
Ibnu Rajab dalam Ahwal al-Qubur
(32), al-Hafizh Ibnu Hajar dalam al-
Mathalib al-’Aliyah (juz 5 hal. 330)
dan al-Hafizh al- Suyuthi dalam al-
Hawi lil-Fatawi (juz 2 hal. 178).
Menurut al-Hafizh al-Suyuthi, hadits
di atas diriwayatkan secara mursal
dari Imam Thawus dengan sanad
yang shahih.
Tradisi bersedekah kematian selama
tujuh hari berlangsung di Kota
Makkah dan Madinah sejak generasi
sahabat, hingga abad kesepuluh
Hijriah, sebagaimana dijelaskan oleh
al-Hafizh al-Suyuthi.
IMAM BESAR WAHABI HALALKAN KENDURI MAYIT
عَشَاءُ الْوَالِدِينَ
س : الأخ أ. م. ع. مِنَ الرِّياضِ يَقُولُ فِي سُؤَالِهِ : نَسْمَعُ كَثِيرًا عَنْ عَشَاءِ الْوَالِدِينَ أَوْ أحَدِهِمَا ، وَلَهُ طُرُقٌ مُتَعَدِّدَةٌ ، فَبَعْضُ النَّاسِ يَعْمَلُ عِشَاءَ خَاصَّةٍ فِي رَمَضانِ وَيَدْعُو لَهُ بَعْضَ الْعُمَّالِ وَالْفقراءِ ، وَبَعْضُهُمْ يُخْرَجُهُ للذين يُفْطِرُونَ فِي الْمَسْجِدِ ، وَبَعْضُهُمْ يَذْبَحَ ذَبيحَةَ وَيُوَزِّعُهَا عَلَى بَعْضِ الْفقراءِ وَعَلَى بَعْضِ جِيرَانِهِ ، فَإِذَا كَانَ هَذَا الْعَشَاءُ جَائِزًا فَمَا هِي الصِّفَةُ الْمُنَاسِبَةُ لَهُ؟ ( ج ) : الصَّدَقَةُ لِلْوَالِدِينَ أَوْ غِيَرِهُمَا مِنَ الْأقاربِ مَشْرُوعَةٌ ؛ لِقولِ « النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيه وَسَلَّمَ : لَمَّا سَأَلَهُ سَائِلٌ قَائِلًا : هَلْ بَقِيَ مِنْ بَرٍّ أَبَوَيْ شَيْءٌ أَبَرَّهُمَا بِهِ بَعْدَ مَوْتِهِمَا ؟ قَالَ نَعَمْ الصَّلاَةُ عَلَيهُمَا وَالْاِسْتِغْفارُ لَهُمَا وإنفاذُ عَهْدِهِمَا مِنْ بَعْدِهِمَا وَإكْرَامُ صَدِيقِهِمَا وَصِلَةُ الرَّحِمِ الَّتِي لَا تُوَصِّلْ إلّا بِهِمَا » وَلِقَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيه وَسَلَّمُ :« إِنَّ مَنْ أَبَرَّ الْبَرَّ أَنْ يَصِلَ الرَّجُلُ أهْلَ وَدِّ أَبِيه »« وَقَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيه وَسَلَّمَ لَمَّا سَأَلَهُ سائِلٌ قَائِلًا : إِنَّ أُمَّي مَاتَتْ وَلَمْ تُوصِ أَفَلَهَا أَجْرٌ إِنْ تَصَدَّقْتُ عَنْهَا ؟ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيه وَسَلَّمَ نَعَمْ » وَلِعُمُومِ قَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيه وَسَلَّمُ :« إِذَا مَاتَ اِبْنُ آدَمَ اِنْقَطَعَ عَمَلُهُ إلّا مِنْ ثَلاثٍ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمُ يَنْتَفِعُ بِهِ أَوْ وَلَدٌ صَالِحٌ يَدْعُو لَهُ ». وَهَذِهِ الصَّدَقَةُ لَا مُشَاحَّةَ فِي تَسْمِيَتِهَا بِعَشَاءِ الْوَالِدِينَ أَوْ صَدَقَةِ الْوَالِدَيْنِ سَواءٌ كَانَتْ فِي رَمَضانَ أَوْ غَيْرَهُمَا
“HUKUM KENDURI UNTUK MAYIT KEDUA ORANG TUA” Soal: Sda AMA, Riyadh. Kami banyak mendengar tentang kenduri untuk kedua orang tua atau salah satunya.Dan banyak caranya.Sebagian masyarakat mengadakan kenduri khusus pada bulan Ramadhan dengan mengudang sebagian pekerja dan fakir miskin.Sebagian lagi mengeluarkannya bagi mereka yang berbuka puasa di Masjid.Sebagian lagi menyembelih hewan dan membagikannya kepada sebagian fakir miskin dan tetangga.Apakah kenduri ini boleh? Lalu bagaimana cara yang wajar?Jawab: “Sedekah untuk kedua orang tua, atau kerabat lainnya memang dianjurkan syara’, karena sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, ketika seseorang bertanya: “Apakah aku masih bisa berbakti kepada kedua orang tua setelah mereka wafat?” “Iya, menshalati jenazahnya, memohonkan ampunan, menepati janjinya, memuliakan teman mereka, menyambung tali kerabatan yang hanya tersambung melalui mereka.” Dan karena sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Termasuk kebaktian yang paling baik adalah seseorang menyambung hubungan mereka yang dicintai ayahnya.” Dan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketiak seseorang bertanya: “Sesungguhnya ibuku telah meninggal dan tidak berwasiat. Apakah ia akan mendapatkan pahala jika aku bersedekah untuknya?” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Iya”. Dan karena keumuman sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Apabila seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara, sedekah yang mengalir, ilmu yang dimanfaatkan dan anak shaleh yang mendoakannya.” Sedekah semacam ini, tidak menjadi soal dinamakan kenduri kedua orang tua atau sedekah kedua orang tua, baik dilakukan pada bulan Ramadhan atau selainnya.
(Syaikh Ibnu Baz, Majmu Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, juz 13 hal. 253-254)
حُكْمُ حُضُورِ مَجْلِسِ الْعَزَاءِ وَالْجُلُوسِ فِيه (س): هَلْ يَجُوزُ حُضُورُ مَجْلِسِ الْعَزَاءِ وَالْجُلُوسِ مَعَهُمْ ؟ ج: إِذَا حَضَرَ الْمُسْلِمُ وَعَزَّى أهْلَ الْمَيِّتِ فَذَلِكَ مُسْتَحَبٌّ ؛ لمَا فِيه مِنَ الْجَبْرِ لَهُمْ وَالتَّعْزِيَةِ ، وَإِذَا شَرِبَ عِنْدَهُمْ فِنْجَانَ قَهْوَةٍ أَوْ شَاي أَوْ تُطَيِّبَ فَلَا بَأسً كَعَادَةِ النَّاسِ مَعَ زُوَّارِهُمْ .
Soal: Bolehkah menghadiri majlis ta’ziyah (tahlilan) dan duduk-duduk bersama mereka?Jawab: Apabila seorang Muslim menghadiri majliz ta’ziyah dan menghibur keluarga mayit maka hal itu disunnahkan, karena dapat menghibur dan memotivasi kesabaran kepada mereka. Apabila minum secangkir kopi, teh atau memakai minyak wangi (pemberian keluarga mayit), maka hukumnya tidak apa-apa, sebagaimana kebiasaan masyarakat terhadap para pengunjungnya.”
(Syaikh Ibnu Baz, Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, juz 13 hal. 371.)

