istilah bid'ah hasanah atau sebaik baik bid'ah ada di zaman
khalifah Umar r.a dan beliaulah
yang mula mula membuat istilah
atau dengan kata lain membagi
bid'ah menjadi dua. JADI ISTILAH
INI ADALAH SUNNAH KHULAFAUR
ROSYIDIN.
dalam hal ini beliau bersandarkan
pada sahih muslim berikut : "
dari “Jarir bin Abdullah al-Bajali
radhiyallahu anhu berkata,
Rasulullah shallallahu alaihi wa
sallam bersabda: “Barangsiapa
yang
memulai (hal baru)perbuatan baik
dalam
Islam, maka ia akan memperoleh
pahalanya serta pahala orang-
orang
yang melakukannya sesudahnya
tanpa dikurangi sedikitpun dari
pahala mereka. Dan barangsiapa
yang memulai(hal baru) perbuatan
jelek
dalam Islam, maka ia akan
memperoleh dosanya dan dosa
orang-orang yang melakukannya
sesudahnya tanpa dikurangi
sedikitpun dari dosa
mereka.” (HR.Muslim [1017]).
oleh karena ini ajaran atau sunnah
khulafaur Rosyidin maka umat
islam harus membenarkan dan
mengikutinya berdasar hadis sahih
berikut :
“Wajib atas kalian berpegang
tegus dengan ajaranku dan juga
ajaran khulafaur rosyidin yang
mendapatkan petunjuk. Gigitlah
kuat-kuat ajaran tersebut
dengan gigi geraham kalian ” (HR.
Tirmidzi no. 2676 dan Ibnu Majah
no. 42. sahih)
terpecah islam diakhir zaman
menjadi 73 golongan adalah hal
yang pasti bahkan di akhir zaman
di era imperialisme barat muncul
ajaran salafi palsu di abad 19 di
RIYADH (NAJD) ajaran ini lahir dari
konfirasi yahudi dan inggris untuk
menghancurkan islam dari dalam .
tentu saja sekte baru dalam islam
dakwanya selalu memfitnah umat
islam bid'ah sesat musyrik kafir
pada sesama umat islam dan
Rosulullah menyebut sekte baru
ini AJARAN TANDUK SETAN AHLUL
FITNAH DARI NAJD.
dan inilah DAKWAH SALAFY PALSU YANG SANGAT DITAKUTKAN OLEH ROSULULLAH ,terjadinya fitnah sesat musryik kafir hingga
penghalalan darah sesama sebagaimana dalam hadis sahih berikut
Rasulullah Saw bersabda:
"Sesungguhnya yang paling
Aku takutkan bagi kalian
adalah seseorang yang
membaca al-Quran, sehingga
ketika dia terlihat
kebesarannya, pembelaannya
untuk Islam, kemudian ia
terlepas dan
mencampakkannya di
belakangnya, membawa pedang
kepada tetangganya dan
menuduhnya syirik. Saya
(Khudzaifah) bertanya: Ya
Nabiyyallah, siapaka
diantaranya yang lebih berhak
pada kesyirikan, yang dituduh
ataukah yang menuduh?
Rasulullah Saw menjawab:
Yang menuduh" (HR Ibnu
Hibban 1/282 dari Khudzaifah,
dengan sanad yang hasan)
